Detak — PT Maxindo Karya Anugerah Tbk resmi mengoperasikan pabrik ketiga mereka di Kawasan Industri Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Fasilitas produksi baru ini diposisikan sebagai langkah strategis perusahaan untuk meningkatkan kapasitas, memperluas pasar ekspor, dan memperkuat rantai pasok berbasis ubi kayu.
Peresmian yang dihadiri Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari, perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), jajaran manajemen Maxindo, mitra usaha, serta kelompok petani, juga menandai penyerahan simbolis bibit singkong unggul kepada pemerintah daerah dan petani setempat.
Presiden Direktur Maxindo, Sarkoro Handajani, menyatakan pabrik di Kendal merupakan fasilitas produksi terbesar perusahaan. Menurutnya, pembangunan pabrik ini menjawab kenaikan permintaan global sekaligus memperkuat upaya hilirisasi komoditas pertanian nasional.
“Pabrik di Kendal merupakan fasilitas produksi terbesar yang kami miliki. Kami berharap dapat berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Kendal dan masyarakat agar investasi ini tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi perusahaan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang luas bagi daerah,” kata Sarkoro.
Saat ini kebutuhan bahan baku Maxindo mencapai sekitar 100 ton per hari. Sebagian pasokan mulai dipenuhi dari petani di wilayah Kabupaten Kendal, termasuk Kecamatan Kaliwungu dan Boja.
Kolaborasi Riset dan Dukungan Bagi Petani
Untuk menjamin keberlanjutan pasokan, Maxindo tidak sekadar membeli hasil panen. Perusahaan menjalankan program pendampingan budidaya melalui kerja sama riset dengan BRIN dan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menghasilkan bibit unggul dengan produktivitas lebih tinggi dan ketahanan terhadap gagal panen.
“Kami menginvestasikan dana hingga miliaran rupiah untuk riset bersama BRIN dan IPB agar petani memperoleh bibit yang lebih baik. Produktivitasnya dapat meningkat satu setengah hingga dua kali lipat dibandingkan sebelumnya,” ujar Sarkoro.
Sarkoro menegaskan bahwa pertumbuhan perusahaan harus selaras dengan peningkatan kesejahteraan petani. “Semangat kami bukan sekadar membeli hasil panen petani, tetapi membantu meningkatkan pendapatan mereka melalui produktivitas yang lebih baik,” tambahnya.
Lokasi, Kapasitas, dan Teknologi Produksi
Pabrik baru berdiri di atas lahan seluas sekitar 35.000 meter persegi, jauh lebih besar dibanding dua pabrik sebelumnya. Lokasinya hanya sekitar dua kilometer dari pelabuhan ekspor dan berada di kawasan yang mendapat berbagai insentif investasi.
Maxindo menghadirkan lini produksi berbasis teknologi extrusion serta melakukan modernisasi proses untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas manufaktur.
Dengan fasilitas tersebut, perusahaan menargetkan peningkatan serapan pasar internasional yang selama ini sudah menjangkau sekitar 40 negara di empat benua, antara lain Amerika Serikat, Australia, China, Jepang, Belanda, Jerman, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Yordania, dan Kuwait.
“Pasar Amerika, Australia, Eropa hingga Timur Tengah terus bertambah. China juga kembali menjadi pasar ekspor kami sehingga kami optimistis kapasitas produksi dari Kendal dapat terserap,” kata Sarkoro.
Penyerapan Tenaga Kerja dan Dampak Lokal
Dalam hal ketenagakerjaan, Maxindo menargetkan sekitar 95% pekerjanya berasal dari masyarakat sekitar. Saat ini, sekitar 90% tenaga kerja yang direkrut adalah tenaga lokal.
“Kami ingin perusahaan ini tumbuh bukan hanya untuk memperoleh keuntungan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja yang lebih luas serta meningkatkan devisa negara melalui ekspor,” ujar Sarkoro.
Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari menyambut baik beroperasinya pabrik tersebut dan berharap investasi memberi dampak langsung bagi warga setempat melalui kesempatan kerja, kemitraan usaha, dan penyediaan bahan baku.
Ia menyampaikan komitmen pemerintah daerah menciptakan iklim investasi kondusif dan mendorong pemanfaatan komoditas pertanian lokal serta perluasan kerja sama dengan kelompok tani dan pelaku UMKM agar manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas.
Hilirisasi Riset Menuju Industri
Kepala Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN, Ratih Asmana Ningrum, mengatakan kerja sama BRIN dengan Maxindo sejak 2021 telah menghasilkan 11 varietas unggul ubi kayu yang resmi terdaftar. Selain itu, ada 10 calon galur ubi jalar hasil rekayasa seluler yang masih menjalani uji lapang.
“Kerja sama ini merupakan bentuk nyata bagaimana hasil riset dapat diterapkan di dunia industri dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Selama lima tahun terakhir kami mengembangkan ubi kayu dan ubi jalar melalui rekayasa seluler, teknik molekuler, serta pengujian lapang secara berkelanjutan,” ujar Ratih.
Penyerahan simbolis bibit singkong unggul kepada Pemerintah Kabupaten Kendal dan kelompok tani merupakan bagian dari upaya memperluas pengembangan varietas tersebut agar mampu meningkatkan produktivitas pertanian, menjamin pasokan bahan baku industri, serta memperkuat daya saing komoditas Indonesia di pasar global.
Ke depan, Maxindo dan BRIN berkomitmen melanjutkan kolaborasi dalam pengembangan varietas unggul, budidaya presisi, penyediaan benih bermutu, inovasi proses pengolahan, dan pengembangan produk bernilai tambah. Sinergi antara pemerintah, lembaga riset, dunia usaha, dan petani diharapkan menjadi model hilirisasi nasional yang mendorong pertumbuhan industri sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ikuti Detak
