— Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) memuji peran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai motor utama riset dan inovasi teknologi antariksa di Indonesia. Pengakuan itu disampaikan karena BRIN dinilai berkontribusi pada penelitian, pengembangan teknologi, dan pembinaan talenta yang dianggap penting bagi lahirnya industri satelit nasional.

Ketua Umum ASSI, Risdianto Yuli Hermansyah, menyatakan apresiasinya dalam keterangan resmi terkait keberlanjutan riset dan kolaborasi antara riset dan industri yang diperlukan untuk menghilirisasi inovasi menjadi produk dan layanan bernilai ekonomi.

Perkembangan Teknologi dan Peluang Industri

ASSI menyoroti cepatnya perkembangan teknologi satelit global, termasuk munculnya mega-konstelasi satelit Non-Geostationary Orbit (NGSO), layanan Direct-to-Device (D2D), Internet of Things (IoT) berbasis satelit, Earth Observation, dan integrasi dengan Artificial Intelligence (AI). Perubahan itu dianggap sebagai peluang untuk mempercepat pembangunan industri satelit nasional.

Untuk memanfaatkan peluang tersebut, ASSI mendorong penguatan investasi, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), pengembangan sumber daya manusia, serta pembangunan rantai pasok industri satelit dari hulu hingga hilir.

“Kami mengapresiasi BRIN yang terus menjaga keberlanjutan riset dan inovasi teknologi antariksa Indonesia. Sinergi antara riset dan industri merupakan prasyarat utama agar Indonesia mampu menghasilkan inovasi yang tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dihilirisasi menjadi produk, teknologi, dan layanan yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional,”

— ujar Risdianto Yuli Hermansyah.

Warisan Palapa dan Arah Ekosistem Digital

Momentum peringatan 50 tahun satelit Indonesia jadi pengingat perjalanan sejak peluncuran Satelit Palapa A1 pada 9 Juli 1976. ASSI menegaskan satelit bukan hanya capaian teknologi, melainkan simbol pemersatu yang menghubungkan ribuan pulau dan menjadi fondasi pembangunan digital nasional.

Risdianto mengingatkan tantangan baru yang harus dijawab: membangun ekosistem satelit yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing global—bukan sekadar menghadirkan konektivitas.

“Lima puluh tahun lalu Indonesia menjadi pelopor satelit komunikasi di kawasan. Kini saatnya kita melangkah lebih jauh, bukan hanya menjadi pengguna teknologi satelit, tetapi menjadi negara yang mampu merancang, mengembangkan, memproduksi, dan menjadi bagian dari rantai pasok industri satelit dunia,”

— kata Risdianto.

ASSI juga menyatakan dukungan terhadap arah pembangunan ekosistem digital yang diusung Kementerian Komunikasi dan Digital melalui visi Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga (T3). Menurut asosiasi, satelit adalah infrastruktur strategis untuk pemerataan konektivitas, pertumbuhan ekonomi digital, serta menjaga kedaulatan dan ketahanan digital.

Sebagai bagian dari ekosistem, ASSI berkomitmen menjadi mitra strategis pemerintah dengan mendorong kolaborasi lintas sektor, kebijakan berbasis industri, peningkatan investasi, dan penguatan kapasitas pelaku usaha nasional.