— Kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap valuta asing (valas) meningkat seiring bertambahnya aktivitas lintas negara. Valas kini tak lagi sekadar instrumen investasi, melainkan bagian dari transaksi harian, mulai dari perjalanan hingga belanja di platform internasional.

Steven Dhalimarta, Liabilities Banking Services Head PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), mengatakan perubahan itu tercermin dari peningkatan penggunaan layanan valas untuk perjalanan, pendidikan luar negeri, remitansi pekerja migran, transaksi bisnis global, dan belanja digital.

“Dulu transaksi valas lebih banyak dilihat sebagai instrumen mahal dan hanya digunakan kalangan tertentu. Sekarang, valas sudah menjadi kebutuhan transaksi global sehari-hari,” ujarnya dalam acara “Danamon Journalist Class 2026” di Jakarta, Rabu (08/07/2026).

Data Pertumbuhan Valas

Berdasarkan data yang dipaparkan Steven, dana pihak ketiga (DPK) valas perbankan tumbuh 18,1% secara year to date (ytd) dan 18,7% secara tahunan (yoy) per Mei 2026. Tabungan valas tumbuh 29,9% secara tahunan pada periode yang sama.

Penggunaan kartu debit untuk transaksi luar negeri juga naik; volume transaksi luar negeri menggunakan kartu debit tercatat tumbuh 37% secara tahunan per Maret 2026.

Faktor Pendorong Kenaikan

Steven menyebut beberapa faktor pendorong, antara lain meningkatnya mobilitas untuk wisata, ibadah, dan perjalanan bisnis; persiapan dana pendidikan luar negeri; remitansi pekerja migran; serta aktivitas ekspor-impor UMKM melalui e-commerce.

“Sekarang masyarakat juga banyak bertransaksi di platform global, seperti Agoda, Amazon, Netflix, dan layanan internasional lainnya. Ini menunjukkan penggunaan valas makin dekat dengan kebutuhan sehari-hari,” kata Steven.

Perhatikan Spread dan Biaya Tambahan

Seiring perubahan perilaku, Steven mengingatkan masyarakat untuk mengelola valas secara efisien. Transaksi lintas negara tidak hanya soal kurs, tetapi juga biaya lain yang muncul sepanjang proses.

Ia menekankan pentingnya memperhatikan spread kurs, yakni selisih antara kurs jual dan kurs beli. “Kadang masyarakat hanya melihat kurs murah. Padahal, di balik itu bisa ada biaya lain yang membuat total biaya transaksi menjadi lebih besar,” ujarnya.

Contoh yang diberikan: sebuah bank mungkin menawarkan kurs jual lebih rendah dibanding bank lain, namun bila spread lebih lebar, nasabah tetap berpotensi menanggung biaya lebih besar pada transaksi lanjutan.

Selain spread, nasabah diminta mencermati biaya administrasi rekening valas yang dapat dikenakan bulanan, biaya penutupan rekening, biaya tarik tunai di ATM luar negeri, serta biaya penarikan uang fisik atau bank notes.

Steven menjelaskan, saat menarik tunai di luar negeri nasabah dapat dikenakan dua biaya: dari bank pemilik ATM di negara tujuan dan dari bank penerbit kartu di Indonesia. Jika digabungkan, beban biaya bisa cukup besar dibandingkan nominal uang yang ditarik.

Ia juga mengingatkan risiko double conversion ketika menggunakan kartu debit reguler yang masih terhubung ke rekening rupiah. Dalam beberapa transaksi luar negeri, nilai belanja dapat dikonversi terlebih dahulu ke dolar AS oleh jaringan kartu, lalu dikonversi lagi ke rupiah oleh bank penerbit kartu, sehingga nilai transaksi menjadi lebih mahal.

“Di luar negeri, biaya tarik tunai bisa berasal dari bank pemilik ATM dan bank penerbit kartu. Ini yang sering kali tidak disadari,” ujarnya.

Pilihan Antara Uang Fisik dan Valas Digital

Steven menyatakan uang fisik masih berguna untuk kondisi tertentu, tetapi berisiko hilang, rusak, atau mengalami pemotongan nilai saat penukaran kembali. Sebaliknya, valas digital memungkinkan pemantauan saldo dan kurs melalui mobile banking serta tunduk pada pengawasan regulator.

Money changer tetap dapat dipilih untuk penukaran tunai kecil dan cepat. Namun untuk transaksi besar atau kebutuhan kompleks, bank memberi layanan lebih terintegrasi, seperti rekening, kartu debit, dan transfer internasional.

Steven menilai edukasi transaksi valas menjadi semakin penting. Masyarakat perlu memahami kapan membeli valas, mata uang apa yang disiapkan, serta seluruh biaya yang harus diperhitungkan.

“Intinya, kualitas produk valas tidak hanya diukur dari kurs. Nasabah perlu melihat total biaya transaksi secara keseluruhan,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa kebutuhan transaksi lintas negara diperkirakan akan terus meningkat seiring mobilitas masyarakat, perkembangan ekonomi digital, dan meluasnya aktivitas global masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, layanan valas yang mudah, aman, efisien, dan transparan dinilai semakin dibutuhkan.

“Valas sekarang bukan hanya soal menabung atau investasi, tetapi juga soal bagaimana masyarakat bisa melakukan transaksi global dengan lebih cerdas,” pungkas Steven.