— Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatan terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat, 10 Juli 2026. Pada sore hari itu, rupiah ditutup menguat 63 poin atau 0,35% ke level Rp 18.065 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp 18.128 per dolar AS.

Pada pembukaan pagi, rupiah sudah bergerak menguat 45 poin (0,25%) ke Rp 18.083 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyatakan penguatan rupiah dipengaruhi respon pasar terhadap rilis Dana Moneter Internasional (IMF) yang mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,0% untuk 2026 dan 5,1% untuk 2027.

Dari sisi eksternal, Ibrahim mencatat penguatan tercatat meski ketegangan antara AS dan Iran meningkat di Timur Tengah. Ketegangan itu memunculkan risiko gangguan logistik energi di Selat Hormuz dan potensi lonjakan harga minyak.

“Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran tentang inflasi yang didorong oleh energi, yang pada gilirannya dapat memicu sikap yang lebih agresif dari Federal Reserve,”

Ibrahim juga mengutip data dari CME FedWatch Tool yang menunjukkan pasar menilai peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan September mendatang sebesar 63%.

“Pasar terlihat terus meningkatkan taruhan mereka pada kenaikan suku bunga Fed pada tahun 2026 pekan ini,” ujar Ibrahim.