Detak — Pengamat memprakirakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berlanjut pada awal pekan depan. Penutupan perdagangan Jumat lalu mencatat penguatan harian, tetapi sentimen eksternal masih membatasi penguatan mata uang domestik.
Pada perdagangan Jumat sore (10/7/2026), rupiah tercatat menguat 63 poin atau 0,35% ke level Rp18.065 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp18.128 per dolar AS.
Perkiraan Pergerakan Mingguan
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pada perdagangan Senin depan rupiah akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp18.060–Rp18.110 per dolar AS.
Untuk sepekan ke depan, dia memproyeksikan nilai tukar rupiah berada di antara level Rp17.870 hingga Rp18.300 per dolar AS.
Faktor Penguat dan Risiko
Ibrahim menyebut salah satu faktor yang mendukung penguatan rupiah adalah respons positif pasar terhadap proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) yang menempatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 5,0% untuk 2026 dan 5,1% untuk 2027.
Namun, rupiah masih dibayangi sentimen eksternal. Ibrahim menyoroti memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah yang menimbulkan kekhawatiran lonjakan harga minyak.
“Konflik tersebut telah menunda pembukaan kembali sepenuhnya Selat Hormuz, jalur air utama yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas global setiap hari sebelum perang. Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran tentang inflasi yang didorong oleh energi, yang pada gilirannya dapat memicu sikap yang lebih agresif dari Federal Reserve,”
Selain itu, Ibrahim mencatat pasar juga sedang meningkatkan taruhan pada kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed sepanjang 2026, yang menjadi salah satu faktor pendorong tekanan pada rupiah.
Ikuti Detak
