Detak — Di balik setiap kiriman uang dari luar negeri tersimpan cerita pengorbanan jutaan pekerja migran yang meninggalkan keluarga demi penghasilan lebih baik. Selama ini remitansi dipandang terutama sebagai dana untuk kebutuhan harian: biaya pendidikan, kesehatan, perbaikan rumah, atau kebutuhan pokok keluarga.
Namun secara ekonomi, remitansi juga berpotensi menjadi sumber pembiayaan pembangunan yang stabil—lebih tahan guncangan dibandingkan aliran modal lain karena didorong ikatan keluarga dan kebutuhan riil penerima.
Skala Dan Tantangan Biaya
Arus remitansi global masih signifikan, dan sejumlah negara seperti India, Filipina, Meksiko, Bangladesh, serta Pakistan memanfaatkan aliran tersebut sebagai penyangga ekonomi. Indonesia memiliki basis pekerja migran yang luas di Malaysia, Singapura, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Timur Tengah, sehingga dana remitansi menopang konsumsi dan kebutuhan dasar jutaan keluarga.
Pendekatan saat ini menunjukkan bahwa sebagian besar remitansi dikonsumsi, bukan diubah menjadi modal produktif. Salah satu hambatan utama adalah biaya pengiriman yang relatif tinggi. Meskipun biaya rata-rata global turun dibanding masa lalu, selisihnya masih jauh dibandingkan transfer domestik. Selain teknologi, struktur pasar dan regulasi yang melibatkan banyak perantara menjadi faktor yang menambah biaya dan memperlambat proses.
Infrastruktur Pembayaran Sebagai Kunci
Solusi teknis dapat ditempuh jika infrastruktur dan aturan disesuaikan. Indonesia telah membangun fondasi seperti BI-FAST, QRIS lintas batas, dan kerja sama Local Currency Settlement. BI-FAST memungkinkan transfer domestik berlangsung cepat dan murah; menghubungkan prinsip serupa ke sistem pembayaran negara tujuan pekerja migran berpotensi memangkas rantai perantara dan menurunkan biaya.
Bank Indonesia bersama beberapa bank sentral ASEAN telah memulai konektivitas regional. Untuk memaksimalkan manfaat, cakupan perlu diperluas ke negara tujuan utama pekerja migran Indonesia. Semakin sedikit perantara, semakin rendah biaya yang harus ditanggung pengirim dan penerima.
Peran Persaingan dan Pemain Digital
Persaingan lebih kuat dari penyedia layanan transfer dan fintech juga dapat menekan biaya. Akses yang lebih adil bagi penyedia digital ke infrastruktur pembayaran nasional serta transparansi kurs valuta asing penting untuk mengurangi biaya tersembunyi yang sering membebani transaksi lintas negara.
Mengubah Remitansi Menjadi Modal Produktif
Menurunkan biaya penting, tetapi transformasi yang lebih besar adalah menghubungkan remitansi dengan layanan keuangan formal. Literasi keuangan menjadi kunci: data aliran remitansi rutin bisa dipakai sebagai dasar penilaian kredit bagi keluarga tanpa riwayat pinjaman formal. Dengan pengakuan tersebut, bank dan lembaga keuangan dapat menawarkan produk seperti tabungan berjangka, asuransi, pembiayaan pendidikan, dan kredit usaha mikro.
Contoh sederhana: keluarga desa yang menerima remitansi rutin secara ekonomi memiliki arus kas stabil. Jika arus itu diakui sebagai bukti kemampuan membayar, keluarga tersebut bisa mengakses pembiayaan untuk membuka usaha kecil—dari warung hingga usaha pertanian—mengubah remitansi dari konsumsi menjadi modal usaha.
Dukungan Kebijakan dan Perlindungan Pekerja Migran
Pemerintah perlu melihat pekerja migran bukan sekadar pemasok devisa, melainkan bagian dari strategi pembangunan. Proteksi pekerja migran, akses ke layanan keuangan digital, pendidikan keuangan sebelum keberangkatan, serta kemudahan investasi bagi penerima remitansi sebaiknya dirancang sebagai paket kebijakan terintegrasi.
Jika sebagian kecil arus remitansi dialihkan ke investasi produktif—ditopang biaya transfer yang mendekati tingkat domestik dan layanan keuangan yang inklusif—dampaknya bisa nyata: lebih banyak usaha mikro muncul, lapangan kerja bertambah, dan ekonomi daerah menjadi lebih dinamis.
Pada akhirnya, remitansi tidak sekadar angka di neraca pembayaran. Di dalamnya tersimpan harapan keluarga. Tantangan negara adalah memastikan setiap rupiah yang dikirim dari luar negeri tidak hanya menjaga kebutuhan hidup, tetapi juga menjadi benih investasi dan pembangunan ekonomi yang inklusif.
Pemerhati Ekonomi dan Dosen FEB-UPN Veteran, Jakarta.
Ikuti Detak
