Detak — Harga minyak dunia ditutup turun sekitar 2% pada perdagangan Kamis (9/7/2026), terdorong kekhawatiran bahwa inflasi yang naik dan perlambatan ekonomi global dapat menekan permintaan energi meskipun risiko gangguan pasokan masih membayangi akibat konflik AS dan Iran.
Brent untuk pengiriman terdekat anjlok US$ 1,72 (2,2%) menjadi US$ 76,30 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 1,44 (2%) menjadi US$ 72,08 per barel. Sehari sebelumnya, Brent dan WTI sempat menyentuh level tertinggi sejak akhir Juni.
Ketegangan Geopolitik dan Dampaknya
Militer Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer AS di beberapa negara Teluk setelah respons Washington yang menarget wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran. Aksi tersebut menekan perjanjian gencatan senjata yang baru berjalan sekitar tiga pekan.
Konflik turut menghambat pembukaan penuh Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum perang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Goldman Sachs mencatat arus pengiriman dari Teluk Persia sempat pulih hingga lebih dari 80% dari kondisi normal dalam 10 hari pertama setelah pembukaan kembali Selat Hormuz, namun turun kembali ke kisaran 70% setelah serangan terbaru terhadap kapal tanker.
Vikas Dwivedi, Global Energy Strategist Macquarie Group, menilai ketegangan terbaru tidak akan berlangsung lama karena keterbatasan ekonomi dan politik kedua negara. “Kami memperkirakan ketegangan baru antara AS dan Iran akan relatif singkat karena kedua negara dibatasi oleh realitas ekonomi dan politik,” ujarnya.
Beberapa negara regional turut menyerukan peredaan ketegangan. Qatar mengecam serangan terhadap kapal komersial dan mendorong kedua pihak kembali ke jalur diplomasi, sementara pejabat Turki dan Oman menyerukan agar tidak terjadi eskalasi militer lebih lanjut. Bob Yawger, Director of Energy Futures Mizuho, menyatakan Iran tampak mulai mencari jalan untuk meredakan konflik dan membuka peluang kembali ke meja perundingan: “Setelah dua hari serangan, Iran tampaknya berupaya mengurangi permusuhan dan kemungkinan kembali bernegosiasi.”
Inflasi dan Permintaan Energi
Di AS, klaim pengangguran mingguan turun, memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja masih relatif solid meski perekrutan melambat. Risalah rapat The Fed Juni menunjukkan kekhawatiran pembuat kebijakan terhadap inflasi meningkat, meskipun mereka memperkirakan kondisi pasar tenaga kerja akan tetap stabil dalam waktu dekat.
Presiden The Fed New York John Williams menyatakan ia tidak memperkirakan kenaikan harga energi akan berlangsung lama meskipun konflik di Timur Tengah masih berlanjut. Namun, langkah The Fed menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menekan permintaan minyak.
Di China, inflasi harga produsen (PPI) pada Juni melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir, meningkatkan tekanan terhadap profitabilitas sektor manufaktur di tengah permintaan domestik yang lemah.
Perkembangan Lain di Pasar Energi
Di Eropa, militer Ukraina mengklaim telah menyerang belasan kapal tanker Rusia di Laut Azov sebagai bagian dari upaya mengganggu pasokan bahan bakar Rusia dan mengisolasi wilayah Krimea yang diduduki Moskow.
Pasar juga memantau perkembangan perang Ukraina karena penyelesaian konflik berpotensi memicu pencabutan sebagian sanksi terhadap Rusia, sehingga membuka peluang peningkatan ekspor minyak Moskow. Pada 2025, Rusia tercatat sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Arab Saudi.
Ikuti Detak
