Detak — Di tengah pergerakan harga emas sekitar US$4.100 per troy ounce, sejumlah analis melihat prospek kenaikan yang signifikan. Salah satu pengamat pasar menyatakan faktor struktural di Amerika Serikat bisa mendorong logam mulia itu ke level yang jauh lebih tinggi.
Peter Schiff, analis pasar mata uang dan komoditas, memaparkan pandangannya terkait risiko fiskal dan moneter AS yang menurutnya berpotensi mengerek harga emas. Pernyataan itu disampaikan dalam perbincangan publik pada awal Juli 2026.
Schiff menyoroti beberapa indikator fiskal AS: beban utang yang hampir mencapai US$40 triliun, defisit tahunan sekitar US$3 triliun, serta beban pembayaran bunga yang bergerak menuju US$2 triliun. Menurutnya, kombinasi faktor tersebut membatasi kemampuan bank sentral untuk menstabilkan harga tanpa memicu gangguan keuangan.
“Saya pikir investor tertipu oleh retorika The Fed,” kata Schiff.
Schiff menilai pembuat kebijakan akan cenderung membiarkan inflasi berjalan daripada menaikkan suku bunga tajam yang bisa membuat pembayaran utang menjadi tidak terjangkau. Ia menyebut inflasi sebagai pilihan kebijakan yang mungkin dipertahankan.
“Dia memang mengakui bahwa inflasi adalah pilihan, dan itulah yang akan dia pilih,” ujarnya.
Menurut Schiff, dorongan inflasi yang berlanjut bisa memicu rangkaian efek negatif: penurunan tajam pasar saham, anjloknya harga properti, resesi, dan pengetatan fiskal. Dalam konteks itu, emas dinilai berpotensi naik sebagai aset lindung nilai.
Lebih jauh, Schiff memperkirakan jalur kenaikan logam mulia: perak menuju US$200 per ons dengan US$50 sebagai level dukungan jangka panjang, sementara emas diprediksi naik dulu ke US$5.000 per troy ounce sebelum mencapai US$10.000.
Ia juga menyinggung permintaan industri dan permintaan moneter yang saling mendukung kenaikan harga logam mulia. Selain itu, Schiff menyebut kemungkinan pergeseran diversifikasi cadangan bank-bank global dari dolar AS ke emas, membalikkan posisi yang terbentuk sejak 1971.
“Emas menjadi pengganti dolar AS. Karena emas adalah cadangan sebelum menjadi dolar,” sebut Schiff.
Ikuti Detak
