— Bagaimana limbah tekstil bisa menjadi sumber penghidupan dan produk bernilai? Dalam episode Cuan Iki, Don Cuan mewawancarai Adrie Basuki, desainer circular fashion yang mengubah sisa kain menjadi produk komersial.

Adrie menempuh perubahan karier setelah 18 tahun bekerja di dunia korporat. Ia lalu mengembangkan inovasi bernama “kain marmer”, hasil olahan limbah kain yang kini menjadi andalan merek ADRIE BASUKI dan menyumbang sekitar 50% pangsa klien dari korporasi.

Selain produk, Adrie membangun inisiatif bernama Kampung Perca di Bogor. Di sana, proses pengolahan kain juga menjadi kesempatan kerja dan keterampilan bagi kelompok lokal.

Salah satu fokus program pemberdayaan yang dijalankan adalah mendukung ibu-ibu yang sebelumnya menjadi korban pinjaman online. Melalui pelatihan dan produksi kerajinan kain, mereka diberi peluang untuk kembali berdaya secara ekonomi.

Pembicaraan dalam program Cuan Iki menggambarkan langkah praktis menggabungkan desain, usaha sosial, dan skema bisnis korporat untuk menciptakan nilai dari limbah tekstil.

Model Bisnis dan Dampak Sosial

Adrie mengkombinasikan aspek desain circular dengan permintaan pasar korporasi, sehingga produk hasil daur ulang dapat diterima di segmen bisnis. Pendekatan ini sekaligus membuka ruang kerja bagi pelaku lokal melalui kegiatan produksi di Kampung Perca.

Langkah Transformasi Karier

Peralihan Adrie dari karier korporat ke dunia desain dan kewirausahaan menekankan aspek keberanian berinovasi dan mencari model bisnis yang berkelanjutan. Kain marmer menjadi contoh bagaimana solusi kreatif bisa membuka peluang komersial sekaligus sosial.

Rekaman lengkap percakapan tersedia dalam episode Cuan Iki, yang mengangkat kisah para pelaku ekonomi kreatif dan wirausaha di Indonesia.