Detak — Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2% untuk 2026 dan 2027. Angka itu tercantum dalam laporan Economic Forecasts for Asia and the Pacific: July 2026.
Meski prospek pertumbuhan dinilai tetap, ADB merevisi naik perkiraan inflasi Indonesia pada 2026 menjadi 3,0%, naik dari proyeksi sebelumnya 2,5%. Kenaikan inflasi ini terutama dikaitkan dengan lonjakan harga energi dan pangan.
Dalam laporannya, ADB menyatakan, “Prospek Indonesia tetap stabil, dengan proyeksi pertumbuhan tetap pada angka 5,2% baik untuk tahun 2026 maupun 2027.” Proyeksi pertumbuhan ini tidak berubah dibandingkan proyeksi April 2026.
Posisi Indonesia di Kawasan
Di antara negara berkembang Asia Tenggara, Indonesia diperkirakan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua, di bawah Vietnam yang diproyeksikan tumbuh 7,2% pada 2026. Negara lain seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand diperkirakan tumbuh masing-masing 4,6%, 3,8%, dan 1,8%.
Secara agregat, ADB menurunkan proyeksi pertumbuhan kawasan ASEAN menjadi 4,5% untuk 2026, dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 4,6%.
Kenaikan Proyeksi Inflasi dan Penyebabnya
ADB memperkirakan tekanan harga di kawasan meningkat, menaikkan proyeksi inflasi ASEAN menjadi 3,8% pada 2026 dari sebelumnya 3,1%. Untuk Indonesia, kenaikan proyeksi sebesar 0,5 poin persentase menjadikan angka inflasi 2026 diperkirakan 3,0%.
ADB menyatakan penyebab utama revisi inflasi adalah kenaikan harga energi dan pangan global yang terkait konflik di Timur Tengah, serta tekanan nilai tukar yang meningkatkan biaya impor di Asia dan Pasifik.
“Pengalihan rute dan pembatasan di sepanjang jalur pelayaran telah mengganggu aliran energi dan barang-barang lainnya, sehingga memperpanjang waktu transit dan memperparah tekanan pada rantai pasokan,”
Menurut ADB, gangguan rantai pasokan akibat konflik tersebut memperburuk tekanan inflasi dan berpotensi melemahkan permintaan ekspor dari negara-negara ASEAN. Ketidakpastian global, gangguan pasokan, dan kenaikan biaya bahan baku diperkirakan menekan prospek pertumbuhan kawasan dalam jangka pendek.
Ikuti Detak
