— Phintraco Sekuritas memasukkan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dalam daftar saham pilihan untuk trading pada Kamis, 2 Juli 2026. Broker tersebut merekomendasikan buy dengan level support di Rp 5.500 dan cut loss jika terjadi break di bawah Rp 5.400.

Phintraco memperkirakan, bila tidak terjadi break di bawah Rp 5.500, saham BBCA berpotensi naik ke kisaran Rp 5.700–5.800 dalam jangka pendek.

Pergerakan Harga dan Aktivitas Investor

Saham BBCA ditutup menguat 0,90% ke Rp 5.600 pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026. Pada sesi tersebut, investor asing melakukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp 135,77 miliar.

Pada dua hari bursa sebelumnya, saham BBCA tercatat berwarna merah akibat tekanan jual investor asing. Volume perdagangan kemarin mencapai 124,12 juta saham dengan frekuensi 32.186 kali dan nilai transaksi Rp 702,85 miliar.

Simulasi Valuasi Menggunakan GGM

KB Valbury Sekuritas menilai bahwa valuasi saham BBCA saat ini belum selaras dengan prospek fundamental perusahaan. Untuk menguji batas bawah valuasi, rumah analis tersebut melakukan simulasi menggunakan metode Gordon Growth Model (GGM), model pertumbuhan dividen jangka panjang.

Dalam skenario yang sangat konservatif, KB Valbury menaikkan asumsi tingkat imbal hasil bebas risiko (risk-free rate) sebesar 100 basis poin dan premi risiko ekuitas (equity risk premium/ERP) sebesar 240 basis poin.

“Meski menggunakan asumsi yang sangat defensif, hasil simulasi tetap menghasilkan nilai dasar sebesar Rp 6.860 per saham. Temuan ini menunjukkan masih terdapat ruang kenaikan yang menarik,”

tulis analis KB Valbury Sekuritas, Akhmad Nurcahyadi, dalam risetnya. Berdasarkan valuasi GGM itu, KB Valbury mempertahankan rekomendasi buy untuk BBCA dengan target harga Rp 9.480 per saham.

Perbandingan Valuasi

Target harga tersebut setara dengan estimasi price to book value (P/B) 2026 sebesar 3,8 kali. Saat ini, saham BBCA diperdagangkan pada valuasi P/B 2026 sekitar 2,5 kali, masih di bawah rata-rata historisnya.

KB Valbury mencatat valuasi BBCA bahkan berada di bawah level minus dua standar deviasi (-2SD), yang menunjukkan valuasi relatif rendah dibandingkan sejarah perdagangan saham tersebut.