— Industri perbankan diperkirakan masih akan mengalami musim kering likuiditas pada paruh kedua tahun ini. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan suku bunga acuan yang tinggi, bank merasakan tekanan pada biaya dana yang meningkat.

Meskipun penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) oleh pemerintah kepada bank-bank pelat merah (Himbara) dinilai menyediakan tambahan likuiditas agregat, aliran tersebut tidak merata ke seluruh perbankan. Akibatnya, beberapa bank, terutama non-Himbara, masih menghadapi biaya dana yang mahal dan mengambil langkah lebih selektif dalam penyaluran kredit.

Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan mengatakan, “Terasa (kering) bagi perbankan secara umum, yang pasti, cost of fund (biaya dana) menjadi mahal. Sehingga, tantangannya juga bagi kredit.”

Untuk merespons kondisi itu, CIMB Niaga tetap mendorong penghimpunan dana murah melalui current account saving account (CASA) dan membuka peluang menerbitkan surat utang bila diperlukan. “Kami selalu standby, tergantung dari permintaan kredit dan harga,” ujar Lani.

Perbedaan Biaya Dana Antarbank

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menyoroti bahwa penempatan SAL yang terkonsentrasi di Himbara menyebabkan perbedaan biaya dana antarbank dan memicu persaingan suku bunga deposito. “Kebijakan SAL perlu dirancang bukan hanya untuk menambah likuiditas, tetapi juga untuk mencegah perang bunga, menjaga persaingan sehat, dan memastikan dana benar-benar mengalir ke sektor produktif,” kata Josua.

Secara makro, likuiditas industri masih memadai. Indikator industri perbankan menunjukkan DPK (April) tumbuh 11,39%, kredit tumbuh 9,98%, AL/NCD 111,13%, AL/DPK 25,39%, dan LDR 86,87%. Namun Josua menekankan angka rata-rata tersebut menutupi tekanan mikro, seperti perbedaan likuiditas antarbank, perebutan deposan besar, penurunan dana murah, serta penyerapan dana ke instrumen SRBI karena imbal hasil menarik.

“Masalahnya bukan kekurangan likuiditas nasional, melainkan likuiditas yang makin tidak merata dan makin mahal. Di semester II-2026, saya melihat likuiditas perbankan akan tetap memadai secara sistem, tetapi terasa lebih ketat secara operasional,” ujarnya.

Tekanan Dari SRBI dan Suku Bunga

Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Hery Gunardi menyatakan ketidakpastian ekonomi global, termasuk geopolitik dan suku bunga tinggi, berdampak pada industri. Bank Indonesia menaikkan BI Rate tiga kali dengan total 100 basis poin tahun ini, yang menurut Hery meningkatkan biaya dana dan tekanan repricing.

Penaikan BI Rate mendorong bunga deposito naik sehingga menekan net interest margin (NIM). Tekanan likuiditas bertambah karena persaingan dengan instrumen Surat Berharga Ritel Indonesia (SRBI) yang menawarkan imbal hasil menarik. Outstanding SRBI hingga Mei 2026 mencapai Rp979,9 triliun, meningkat dari Rp730,9 triliun pada akhir 2025, dan menembus Rp1.021 triliun pada akhir Juni; sekitar Rp677 triliun dimiliki oleh perbankan.

Hery menyampaikan lonjakan outstanding SRBI menciptakan dua tekanan: memperketat persaingan dengan deposito dan menyerap likuiditas pasar sehingga mengurangi dana untuk intermediasi perbankan. “Yang mengalir ke SRBI mengurangi volume dana yang tersedia untuk intermediasi perbankan. Kalau melihat kondisi di pasar, likuiditas sudah hampir kering,” ujarnya.

Meski begitu, Hery menilai fundamental industri masih kuat. Data BI menunjukkan kredit tumbuh 11,51% (yoy) dengan DPK meningkat 13,47% (yoy) per Mei 2026. LDR 86,88% per April 2026 dan capital adequacy ratio (CAR) mencapai 23,97%.

Hery mengingatkan beberapa indikator mulai menunjukkan tekanan: pertumbuhan DPK melambat, NIM terkompresi, dan CAR sedikit menurun. “Kalau cost of fund meningkat, maka disiplin menjadi kata kunci. Sekarang kita memasuki era selective growth,” tegasnya.

Musiman dan Harapan Perbaikan

Chief Economist BTN Myrdal Gunarto memandang tekanan likuiditas pada akhir Juni 2026 bersifat musiman dan berpotensi membaik pada semester II-2026. Ia mencatat posisi excess reserve perbankan per 26 Juni hanya sebesar Rp9,84 triliun, jauh menurun dibanding saat penempatan SAL yang sempat mendorong excess reserve mencapai Rp261,98 triliun.

Myrdal mengatakan menipisnya likuiditas dipicu kebutuhan pembayaran akhir bulan, termasuk arus keluar modal asing, pembayaran dividen dan utang luar negeri, serta kebutuhan devisa untuk impor. Meski demikian, ia optimistis likuiditas akan membaik seiring meredanya tensi geopolitik dan potensi masuknya investasi asing.

Respons Himbara Terhadap Penempatan SAL

Bank-bank Himbara menyambut kebijakan penempatan SAL yang dialokasikan pemerintah. Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan sinergi antara Kementerian Keuangan dan industri perbankan penting untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Kebijakan ini menjadi langkah positif untuk memperkuat likuiditas perbankan sehingga kapasitas intermediasi dalam mendukung pembiayaan sektor-sektor produktif yang menjadi penggerak perekonomian nasional,” ujar Hery.

Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menyebut kolaborasi dengan pemerintah penting untuk memperkuat efektivitas kebijakan fiskal dan mengoptimalkan fungsi intermediasi perbankan dalam penyaluran pembiayaan ke sektor produktif. Direktur Utama BRIS Anggoro Eko Cahyo juga menegaskan bahwa pengelolaan SAL yang optimal membutuhkan dukungan sistem keuangan yang sehat dan sinergi pemerintah-industri perbankan.

Anggoro menambahkan bahwa BSI, sebagai bagian dari Himbara, siap berkontribusi melalui layanan keuangan syariah untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional dan menyediakan manfaat lebih luas bagi masyarakat.