— Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Mandiri (BMRI) tetap menjadi pilihan investor di sektor perbankan menurut riset terbaru MNC Sekuritas. Analis Victoria Venny menyebut kedua bank itu dipertahankan sebagai saham pilihan utama karena kinerja laba dan profil aset yang solid.

Riset MNC Sekuritas mencatat, pada periode Januari–Mei 2026, empat bank besar alias big-4 membukukan pertumbuhan laba bersih agregat sebesar 9% secara tahunan (yoy). Keempat bank itu adalah BRI, Mandiri, BNI, dan BCA.

Bank Mandiri memimpin pertumbuhan dengan kenaikan laba bersih 19% yoy, diikuti BRI sebesar 10% dan BNI 7%. Sementara BCA hanya tumbuh 2% yoy, yang menurut Victoria terutama disebabkan oleh basis laba tahun sebelumnya yang sudah tinggi.

Performa Pendapatan dan Margin

Secara kumulatif, net interest income (NII) empat bank besar naik 7% yoy. BNI tercatat sebagai kontributor NII terbesar dengan peningkatan 15%.

Namun, margin bunga bersih (NIM) sektor menurun 21 basis poin menjadi 5,1% yoy karena penurunan imbal hasil aset. Tekanan margin ini sebagian tertahan oleh perbaikan cost of funds.

PPOP, Kredit, dan DPK

Pre-provision operating profit (PPOP) agregat meningkat 5% yoy; BMRI mencatat pertumbuhan PPOP terkuat. BRI menjadi satu-satunya yang mengalami penurunan PPOP sebesar 2% akibat kenaikan biaya operasional.

Pertumbuhan kredit sektor tercatat 15% yoy, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 17% yoy. Credit cost relatif stabil di level 1,4%.

Data Bank Indonesia juga menunjukkan percepatan pertumbuhan kredit secara luas menjadi 10,8% yoy, didorong oleh kredit investasi dan kredit modal kerja. Giro tumbuh kuat 20,3% yoy sehingga menjaga porsi CASA yang menjadi sumber dana murah bagi bank.

Segmen pembiayaan untuk UMKM masih menjadi titik lemah, dengan kontraksi 0,6% yoy dan penurunan selama lima bulan berturut-turut.

Target Harga Saham

MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor perbankan. Analis menilai valuasi saat ini telah banyak mencerminkan potensi risiko penurunan, sementara imbal hasil dividen dan kualitas aset relatif menarik.

Untuk BBCA, rekomendasi yang disarankan adalah buy dengan target harga Rp 8.700, mengingat profil laba yang defensif dan kualitas aset yang dinilai terbaik di kelasnya. Untuk BMRI, rekomendasi buy dengan target harga Rp 6.050 didasarkan pada momentum laba dan PPOP yang terdepan di sektor.

Victoria Venny mengingatkan bahwa risiko utama yang perlu diperhatikan adalah pengetatan likuiditas dan potensi tren kualitas aset yang lebih lemah dari perkiraan.