Detak — Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat menjadi satu-satunya saham yang nilai transaksinya melampaui Rp 1 triliun pada sesi I perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (30/6/2026).
Data perdagangan menunjukkan 217,54 juta saham BBCA berpindah tangan dengan frekuensi 43.787 kali dan nilai transaksi mencapai Rp 1,24 triliun. Meski demikian, harga saham perusahaan tersebut kembali turun 3,38% ke level Rp 5.725 per saham.
Saham Lain Tertinggal Jauh
Posisi kedua dalam daftar saham dengan nilai transaksi terbesar di pasar reguler sesi I ditempati PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan Rp 377,6 miliar. Disusul oleh PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) Rp 350,4 miliar, PT Bank Mandiri (BMRI) Rp 347 miliar, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 226,4 miliar.
Tekanan Jual Asing Pada BBCA
Data dari Stockbit Sekuritas mencatat adanya tekanan jual asing pada saham BBCA. Tercatat asing melakukan net sell sebesar 72,21 juta saham, atau sekitar Rp 413,22 miliar—tertinggi di antara emiten lainnya pada sesi I.
Secara keseluruhan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 2,42% ke level 5.679 dengan total nilai transaksi di seluruh pasar BEI mencapai sekitar Rp 7,5 triliun pada sesi I.
Catatan Maybank Sekuritas
Maybank Sekuritas dalam risetnya mencatat IHSG mengalami penurunan pada perdagangan sebelumnya sebesar 1,28% (Senin, 29/6/2026). Mereka juga melaporkan nilai transaksi harian mencapai Rp 9 triliun dengan pasar reguler sebesar Rp 7,63 triliun.
“Keadaan ini menunjukkan sentimen yang relatif minim mencerminkan perilaku pasar cenderung wait & see,”
Menurut laporan yang sama, asing tercatat kembali melakukan net sell sebesar Rp 881 miliar. Penjualan terbesar dari investor asing terjadi pada BBCA (Rp 423,63 miliar), BMRI (Rp 97,82 miliar), TLKM (Rp 71,29 miliar), BBRI (Rp 53,78 miliar), dan AALI (tercatat Rp 43,18 miliar).
Maybank Sekuritas menyoroti perubahan peran BBCA: yang sebelumnya menjadi saham penahan indeks kini berubah menjadi pemberat indeks.
Perkembangan Nilai Transaksi Pasar
Dalam catatan Maybank Sekuritas, nilai transaksi pasar secara keseluruhan saat ini tergolong kecil jika dibandingkan periode sebelumnya. Rata-rata nilai transaksi harian pada 2020–2022 berkisar Rp 9–14 triliun per hari, turun menjadi sekitar Rp 10 triliun pada 2023, lalu meningkat pada 2024 hingga awal 2026 di kisaran Rp 13–34 triliun.
Maybank Sekuritas menegaskan penurunan nilai transaksi secara signifikan menjadi “alarm” penting untuk menentukan arah pergerakan pasar dalam waktu mendatang.
“Apabila hal ini tidak mengalami pemulihan dalam waktu dekat, momentum negatif dengan volatilitas yang sangat tinggi dapat segera terealisasi,”
