Detak — Mayoritas bank sentral di dunia berencana memangkas alokasi kepemilikan dolar Amerika Serikat dalam satu dekade ke depan, menurut survei tahunan lembaga pemikir OMFIF. Temuan ini menandai perubahan signifikan dalam pola cadangan devisa yang berlangsung hampir selama satu abad.
Survei yang dilaporkan pada 30 Juni 2026 melibatkan 90 bank sentral, dana pensiun publik, dan pengelola dana berdaulat dengan total aset kelolaan mencapai US$ 10 triliun. Selain pergeseran dari dolar AS, laporan itu juga mencatat dorongan kuat untuk integrasi kecerdasan buatan (AI) di kalangan pengelola publik.
Posisi Dolar Dipertanyakan
Meskipun dolar sempat menguat 3% tahun ini, responden menyatakan bahwa status dolar sebagai mata uang cadangan utama mulai goyah karena risiko politik dan kebijakan domestik AS. Belum ada mata uang tunggal yang sepenuhnya menggantikan peran dolar dalam jangka pendek.
Survei menunjukkan 79% bank sentral dan 60% lembaga dana publik percaya sistem moneter global bergerak menuju multipolaritas. Mata uang seperti krona Norwegia, dolar Selandia Baru, dan poundsterling disebut mulai dilirik untuk alokasi cadangan.
Emas Kian Sentral
Seiring menipisnya kepercayaan pada mata uang kertas, emas menjadi pilihan utama. Saat ini 82% bank sentral memegang emas, dan 30% responden berencana menambah alokasi emas dalam satu hingga dua tahun ke depan.
“Emas kini telah bergeser ke pusat strategi manajemen cadangan devisa,” demikian isi laporan OMFIF yang dikutip dalam survei tersebut.
Adopsi AI dan Ketimpangan Digital
Survei mencatat lebih dari 66% bank sentral berencana mempercepat integrasi AI. Namun kepuasan terhadap pemanfaatan AI masih rendah: tidak ada bank sentral negara maju dan hanya 9% secara keseluruhan yang merasa puas dengan tingkat pemanfaatannya saat ini.
Ada pula jurang digital antara negara maju dan berkembang. Sekitar 89% bank sentral di negara maju sudah menggunakan AI untuk analisis data dan fungsi back-office, sedangkan di negara berkembang angkanya sekitar 44%.
Pergeseran Investasi ke Aset Nyata dan Emerging Markets
Pengelola dana publik menunjukkan minat meningkat terhadap aset fisik seperti infrastruktur dan properti, dengan hampir 60% berencana menambah investasi di sektor tersebut. Selain itu, alokasi ke pasar negara berkembang naik menjadi 38% dari 27% tahun sebelumnya.
Meski demikian, pasar AS dan China tetap menarik bagi investor karena peran kedua negara dalam perkembangan industri AI global.
Pemicu Diversifikasi Cadangan
Laporan menyebut salah satu pemicu utama pergeseran ini adalah pemanfaatan sistem keuangan sebagai instrumen politik, termasuk pembekuan cadangan dan sanksi ekonomi. Ketegangan geopolitik terbaru juga mendorong bank sentral untuk mengurangi ketergantungan pada satu mata uang.
“Asumsi lama yang menyebut investor publik bisa menunggu sampai situasi kembali normal kini terlihat semakin tidak realistis,” tulis Ekonom Senior OMFIF Yara Aziz dalam laporan tersebut.
Akhirnya, diversifikasi ke mata uang alternatif, aset berwujud, dan komoditas seperti emas dipandang bukan sekadar opsi investasi, melainkan strategi untuk menjaga kestabilan kekayaan negara di tengah gejolak politik global.
